Rabu, 03 Desember 2014

Keluarga Surya Al-hadi Di Sukadana


Kali ini saya sangat merindukan keluarga saya yang ada di Sukadana, sedikit saya akan bercerita tentang keluarga saya disana

Kota Sukadana adalah kota yang tidak akan pernah bisa saya lupakan dalam hidup ini,banyak sejarah yang terukir disana,dari kehidupan,keluarga,sahabat,konflik,cinta juga bisa di katakan begitu.
Bukan tanpa pahit saya ada di sana tetapi cukup manis dalam sebuah kadar yang tepat.

Di setiap pagi saya selalu di sugukan oleh suasana nyaman dalam balutan kasih sayang keluarga yang berlandaskan agama.Saya tinggal di keluarga Surya Al Hadi,seorang yang tegas dan memiliki peranan yang sangat kuat dalam suatu keluarga, seorang ayah yang tenang dan berpemikiran jauh kedepan. dari sosoknya saya termotivasi untuk berkembang dan yakin bahwa apapun bisa asalakan kita mau.Bertanggung jawab dan saling menghargai saya dapat dari keluarga baru saya ini,mereka memberikan suatu ruang lingkup yang nyata dan batasan sebagi orangtua tanpa mengurangi rasa sayang walau pun saya bukan keluarga kandung dari mereka.

Saya menjadi anggota keluarga ke 9 di rumah yang luas itu,rumah yang memiliki 5 kamar,ruang tamu dan ruang keluarga yang luas, saat kita menengok ke atas terlihat susunan kayu yang sangat rapih menujukan seni simetris dalam balutan kesederhanaan.

Pada saat saya pertama kali datang di rumah itu pandangan saya tertuju kepada seorang gadis berumur 15 tahun,Vita namanya dia anak ke 3 dari 4 anak yang di miliki oleh om Surya,seorang yang terlihat kurus tinggi dan menggunakan logat lampung yang sangat kental.Dia adalah gadis yang rajin dan cerdas dalam kapasitas umurnya,memiliki keperibadian simple dan berbalutkan agama yang sangat kuat.

Rofi Putra Al Hadi adalah nama panjang dari anak bungsu om Surya,berperawakan kurus kecil dan masih manja dengan ayahnya. “dont judge a book by the cover” mungkin ini adalah kalimat yang tepat  untuk mendefinisikan anak ini,anggota keluarga yang sangat dekat dengan saya,sering mengajak saya jalan-jalan dan makan di luar bahkan dia yang mengajarkan saya untuk stir mobil,tetapi anak ini belum bisa naik motor. anak yang periang dan sangat sok tahu ini masih kelas 7 di SMP Negeri 1 Sukadana.

Saya sempat kaget dan merasa sedikit enggan saat mendengar di keluarga ini memiliki anak perempuan yang sudah kelas 12,jelas saja karena saya tidak pernah tinggal satu rumah dengan wanita yang sudah beranjak dewasa. Namanya Rya Novega Al Hadi memiliki watak yang keras dan memiliki pemikiran sesuai dengan tahapan perkembangannya,tidak ada yang salah dengan wanita ini tetapi dia adalah tempat dimana saya menceritakan dan berbagi pengalaman masalah wanita dan hubungan,dia adalah sudut pandang yang berbeda,sudut pandang yang saya butuhkan sebagai wanita yang keras.

Anak pertama dari keluarga ini adalah Zubaid Al Hadi,semester 1 di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Kota Metro. Teman kamar yang menyenangkan tetapi terkadang sepertinya butuh arahan untuk kontrol. keras dan tanggung jawab yang bisa saya lihat dari saudara saya ini,hal yang paling tidak bisa saya lupakan adalah saat bermain PES dan Sharing masalah Budaya lampung ,dia yang memberi wawasan  luas dalam kapasitas saya sebagai pendengar yang sangat ingin belajar kebudayaan tersebut.

Dalam rumah yang tenang ini di balut dengan kasih sayang seorang kakek dan nenek yang biasa kami sebut Sidi dan Siti.kebiasaan yang baik tertular pada diri saya,mereka mangajarkan bagaimana memandang suatu objek dalam cara pandang islam modern dan cinta dalam perbuatan serta pemikiran.

Setiap pukul 04.00 Sidi dan Siti sudah bangun mereka tahajud bersama,hidup harmonis dan menghargai tanpa menuntut emansipasi, jelas terlihat dalam senyuman seorang siti yang selalu menyapaku di pagi hari, setelah sholat tahajud dan berdzikir bersama,bersamaan itu pula terdengar adzan subuh yang menggema menambah nikmat suatu pagi yang sejuk dengan penuh kedamaian. Sidi langsung bergegas mengeluarkan motor tuanya itu dan berangkat ke mesjid untuk sholat subuh berjamaah.

Sekitar pukul 05.30 Siti sudah menyiapkan hidangan pagi untuk Sidi yang baru pulang dari mesjid,tak lupa menghidupkan televisi dan mengarahkan chanelnya ke sebuah stasiun televisi tertua yang ada di indonesia.

sungguh saya merindukan kalian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar